PRINSIP-PRINSIP DASAR DALAM PENDIDIKAN ANAK

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Pengajaran hanya bermakna membuat anak bisa mengerti atau melakukan sesuatu seperti yang diajarkan, sementara di lain pihak pendidikan bukan saja membuat anak mampu melakukan atau mengerti sesuatu saja, tapi juga mampu mengembangkan karakter dan pribadi anak. Dan pendidikan karakter inilah nantinya yang akan menuntun kesuksesan hidup anak bukan pengetahuan dan ketrampilannya.

Iman adalah kepercayaan yang terhujam kedalam hati dengan penuh keyakinan, tak ada perasaan syak (ragu-ragu) serta mempengaruhi orientasi kehidupan, sikap dan aktivitas keseharian.

Pendidikan keimanan termasuk aspek pendidikan yang patut mendapat perhatian yang pertama dan utama dari orang tua. Memberikan pendidikan ini pada anak merupakan sebuah keharusan yang tidak boleh ditinggalkan. Pasalnya iman merupakan pilar yang mendasari keislaman seseorang.

Untuk mengembangkan karakter dan pribadi anak yang baik maka harus ditamankan nilai-nilai  pendidikan Agama Islam. Nilai-nilai pendidikan agama islam sangat penting bagi perkembangan anak, maka pendidik harus menanamkan nilai-nilai tersebut dengan baik kepada anak. Agar anak menjadi manusia yang dapat bermanfaat bagi Agama dan bangsanya

Pembentukan iman harus diberikan pada anak sejak kecil, sejalan dengan pertumbuhan kepribadiannya. Nilai-nilai keimanan harus mulai diperkenalkan pada anak dengan cara : memperkenalkan nama Allah SWT dan Rasul-Nya, memberikan gambaran tentang siapa pencipta alam raya ini melalui kisah-kisah teladan, memperkenalkan ke-Maha-Agungan Allah SWT .

Menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam  pada diri setiap anak juga dapat menciptakan anak  yang berkarakter sesuai dengan ajaran Islam dan dapat membentuk manusia yang beriman  kepada Allah SWT.

Nilai-nilai tersebut perlu ditanamkan  pada anak sejak kecil, karena pada waktu itu adalah masa yang tepat untuk menanamkan kebiasaan yang baik padanya.

Agar pendidik tidak tersesat dalam mendidik anak-anak dan juga tidak melakukan kesalahan fatal sehingga anak bukan saja tidak pintar secara intelektual tapi juga tidak berkembang kepribadian dan wataknyapun, pendidik harus memiliki prinsip prinsip pendidikan yang menjadi tuntunan dan jiwa dari seluruh aktifitas pendidikannya di ruang kelas yaitu terbuka. Dalam pendidikan harus ada prinsip keterbukaan,

Terdapat pula prinsip-prinsip mendasar dalam pendidikan anak, prinsip-prinsip dasar tersebut berpusat pada dua macam prinsip, yaitu prinsip ikatan dan dan prinsip peringatan.

Prinsip-prinsip tersebut berperan penting dalam pembentukan kepribadian anak. Maka dari itu, pendidik harus benar-benar menerapkan prinsip tersebut agar anak menjadi pribadi yang baik sesuai dengan ajaran agama Islam.

 

1.2  Rumusan Masalah

Dari latar belakang tersebut, dalam makalah ini penulis dapat merumuskannya menjadi beberapa rumusan masalah, yaitu:

1.2.1        Pengartian nilai pendidikan Islam

1.2.2        Pengertian pendidikan Islam

1.2.3        Prinsip – prinsip dasar dalam pendidikan anak

 

1.3  Tujuan Pembuatan Makalah

Dari rumusan masalah tersebut, dalam makalah ini penulis dapat merumuskan tujuan pembuatan makalah, yaitu :

1.3.1        Untuk memahami nilai pendidikan Islam

1.3.2        Untuk memahami pendidikan Islam

1.3.3        Untuk memahami prinsip-prinsip dasar dalam pendidikan anak

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengartian Pendidikan Islam

Pendidikan dalam bahasa inggris diterjemahkan dengan kata education. Menurut Frederick J. MC. Donald adalah : “Education in the sense used here, is a process or an activity which is directed at producing desirable changes in the behavior of human being” (pendidikan adalah proses yang berlangsung untuk menghasilkan perubahan yang diperlukan dalam tingkah laku manusia).

Menurut H. M Arifin, pendidikan adalah usaha orang dewasa   secara sadar untuk membimbing dan mengembangkan kepribadian serta kemampuan dasar anak didik  baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal. Adapun  menurut  Ahmad D. Marimba adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.

Adapun pengertian pendidikan menurut Soegarda Poerbakawatja  ialah semua perbuatan atau usaha dari generasi tua untku mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya,  dan ketrampilannya kepada generasi muda. Sebagai usaha menyiapkan agar dapat  memenuhi fungsi hidupnya baik jasmani maupun rohani.

Dari beberapa pendapat yang telah diuraikan secara terperinci dapat disimpulkan bahwa pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha manusia  untuk dapat membantu, melatih, dan mengarahkan anak melalui transmisi pengetahuan, pengalaman, intelektual, dan keberagamaan orang tua (pendidik) dalam kandungan sesuai dengan  fitrah manusia supaya dapat berkembang sampai pada tujuan yang dicita-citakan yaitu kehidupan yang sempurna dengan terbentuknya kepribadian yang utama.

Sedang pendidikan Islam menurut ahmad D Marimba adalah bimbingan jasmani maupun rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Senada dengan pendapat diatas, menurut Chabib Thoha pendidikan Islam adalah pendidikan yang falsafah dasar dan tujuan serta  teori-teori yang dibangun untuk melaksanakan praktek pandidikan berdasarkan nilai-nilai dasar Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Menurut Achmadi mendefinisikan pendidikan Islam  adalah segala usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia serta sumberdaya insan yang berada pada subjek didik menuju terbentuknya manusiaseutuhnya (insan kamil) sesuai dengan norma Islam atau dengan istilahlain yaitu terbentuknya kepribadian muslim

2.2 Pengertian Nilai Pendidikan Islam

Nilai artinya sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Maksudnya kualitas yang memang  membangkitkan respon penghargaan. Nilai itu praktis dan efektif dalam jiwa dan tindakan manusia dan melembaga secara obyektif  di dalam masyarakat.

Menurut Sidi Gazalba yang dikutip Chabib Thoha mengartikan nilai sebagai berikut:

Nilai adalah sesuatu yang bersifat abstrak, ia ideal, nilai bukan benda konkrit, bukan fakta, tidak hanya persoalan benar dan salah yang menuntut pembuktian empirik, melainkan penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki.

Sedang menurut Chabib Thoha nilai merupakan sifat yang melekat pada sesuatu (sistem kepercayaan) yang telah berhubungan dengan subjek yang memberi arti (manusia yang meyakini). Jadi nilai adalaah sesuatu yang bermanfaat dan  berguna bagi manusia sebagai acuan tingkah laku.

Jadi nilai-nilai pendidikan Islam adalah sifat-sifat atau hal-hal yang melekat pada pendidikan Islam yang digunakan sebagai dasar manusia untuk mencapai tujuan hidup manusia yaitu mengabdi  pada Allah SWT. Nilai-nilai tersebut perlu ditanamkan  pada anak sejak kecil, karena pada waktu itu adalah masa yang tepat untuk menanamkan kebiasaan yang baik padanya.

2.3 Prinsip – Prinsip Dasar dalam Pendidikan Anak

Prinsip-prinsip mendasar dalam pendidikan anak berpusat pada dua macam prinsip, yaitu prinsip ikatan dan dan prinsip peringatan

  1. 1.        Prinsip Ikatan

Kita semua tahu bahwa jika anak di saat menginjak usia remaja,usia kesadaran dan mumayyiz, ia telah terjalin dengan ikatan-ikatan akidah,rohani, pemikiran, sejarah, social, dan dan keolahagaan, hingga tumbuh menjadi seorang pemuda, orang dewasa,kemudian menjadi orang tua. Maka, sang anak akan memiliki benteng iman, keyakinan, dan takwa, yang membuat dia mampu mendobrak segala bentuk kejahiliyahan berupa perilaku, keyakinan, prinsip, dan penyesatannya. Ia akan menentang setiap yang menghalang-halangi berlakunya system Islam, atau yang dengki terhadap prinsip-prinsip Islam yang abadi itu.

  1. a.    Ikatan Akidah

Suatu hal yang tidak diragukan, bahwa jika kita menanam secara dalam hakikat iman kepada Allah pada diri anak kita dan berusaha terus menjalin ikatan antara anak dengan akidah KeTuhanan, maka Insya Allah,akan tertanam dalam diri anak perasaan bahwa Allah senantiasa menlagawasinya, takut serta menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah,dan akan senantiasa menaati segala perintah dan larangannya. Bahkan dari jiwa yang penuh perasaan keimanan ini akan keluar zat antibiotik pencegah terhadap masuknya pirus kerusakan social, bisikan napfu serta akhlak-akhlak tercela. Dengan demikian, ia akan mejadi anak yang baik rohani dan budi pekertinya, sempurna akal sepak terjangnya. Bahkan ia akan menjadi orang terhormat yang tidak di buat buat, karena ia berjalan dalam petunjuk, agama, kebenaran, dan jalan yang lurus.

  1. b.   Ikatan Rohani

Ikatan rohani adalah jiwa anak hendaknya memiliki sifat jernih dan bercahaya, penuh iman dan keikhlasan. Jiwanya luhur dalam suasana kesucian. Dan Islam mempunyai metode dalam mengikat seorang muslimdengan bermacam-macam ikatan rohani agar selamanya ia berada dalam kejernihan dan cahaya rohani.

Metode yang dimaksud adalah sebagai berikut :

  • Mengikat anak dengan ibadah, dikiaskan bahwa shalat adalah mengikat anak dengan ibadah puasa jika sang anakmampu melaksanakannya,dengan ibadah haji jika sang ayah mampu membawa serta, dan dengan ibadah zakat jika pendidik mampu melaksanakannya.
  • Mengikat anak dengan Al-Quran, Al-Quran adalah dasar pengajaran dalamsemua kurikulum sekolah di berbagai negara Islam. Sebab, Al-Quran merupakan semboyan agama yang mengokohkan akidah dan menegarkan iman.
  • Mengikat anak dengan rumah-rumah Allah, masjid di dalam Islam merupakan pilar terpenting yang telah menopang pembentukan pribadi muslim dan membangun masyarakat muslim (Islam) hamper di setiap periode pada saat terdahulu, bahkan hingga sekarang dan di masa mendatang masjid tetap merupakan pilar Islam dalam membangun individu dan masyarakat muslim.
  • Mengikat anak dengan dzikir kepada Allah, seperti dalam surat Al-Baqarah ayat: 152,

فَاذْكُرُوْنِيْٰٓ اَذْكُرْوَاشْكُرُوْالِيْ ولاَتَكْفُرُوْنِِ 

Artinya : “Karena itu, ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” Dzikir adalah mengingat keagungan Allah SWT dalam setiap kesempatan di mana pun seorang mukmin berada. Mengingat itu bisa dengan akal, pikiran, hati, jiwa, atau perbuatan.

  • Menginat anak dengan pekerjaan Sunah, maksudnya yaitu ibadah tambahan selain fardu. Macamnya cukup banyak, contohnya yaitu ibadah tambahan dalam shalat dan puasa.

–       Shalat sunah (shalat tambahan), seperti shalat Dhuha, shalat Dhuha paling sedikitnya dua rakaat, pertengahannya empat rakaat dan paling fardu delapan rakaat. Shalat Awwabin, yaitu enam rakaat setelah shalat maghrib. Shalat tahiyatul masjid, yang dilakukan pada saaat masuk masjid sebelum duduk terlebih dahulu. Dua rakaat setelah wudhu. Shalat malam, seperti dalam hadits, “ Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malamb (tahajud), shalat malam sedikitnya dua rakaat dan banyaknya tidak terbatas, shalat ini adalah yang paling utama karena lebih dekat kepada ikhlas. Shalat tarawih. Shalat istikharah. Shalat Hajat.

–       Puasa sunah, asal mula puasa sunah adalah dari apa yang diriwayatkan Muslim dalam Shahihnya dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “ Tiadalah seseorang yang puasa satu hari karena Allah, kecuali Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun.” Contoh puasanya yaitu: puasa hari arafah, puasa hari Asyura dan Tasu’a, yaitu pada saat hari ke Sembilan dan ke sepuluh bulan Muharram. Puasa enam hari di bulan Syawal. Puasa tiga hari putih. Puasa hari senin dan kamis. Puasa sehari berbuka sehari

  • Mengikat anak dengan rasa Muraqabah (mendekatkan) kepada Allah Taala, Islam sangat memperhatikan pendidikan pribadi muslim berdasarkan rasa muraqabah (adalah pengawasan Alah) baik di tempat sepi maupun ramai, penuh pertimbangan dalam setiap langkah, dan penuh katakwaan kepada Allah, baik dalam waktu sempit maupun lapang.

Ketika kita menerapkan pola seperti ini dalam mendidik anak-anak kita, dengan menanamkan di dalam lubuk hatinya rasa muraqabah, muhasabh, dan takwa, dan membiasakan diri merasakn pengawasan Allah ketika bekerjadan pertimbangan yang matang ketika berpikir, serta penuh ketakwaan ketika menimbang rasa,insya Allah anak kita akan terdidik dalam keikhlasan kepada Allah Tuhan Yang Memelihara alam semesta. Karenanya anak tidak mempunyai niata lain ketika melakukan apa saja kecuali mengharapkan keridaan Allah SWT semata.

Anak juga akan terbiasa dengan perasaan suci,bahakan selamat dari segala penyakit spiritual. Ia tidak akan hasud, iri, dengki, serta tidak akan memfitnah dan mengumpat, tidak menikmati kenikmatan yang kotor. Jika ia mendapt bisikan setan atau hawa nafsu ia segera ingat bahwa Allah bersamanya, mendengar dan melihatnya,sehingga ketika itu pula ia melihat kesalahannya.

Imam Ahmad Ar-Rafa’I dalam bukuanya Al-Burhan Al-Mu-ayyad berkata, “Dari rasa takut, timbullah perhitungan amal. Dana dari perhitungan amal timbullah sikap muraqabah. Dari muraqabah, timbullah keharusan menyibukkan diri dengan Allah Taala.”

Karenanya, kita hendaknya selau melatih dir, keluarga, dan anak-anak kita untuk selalu merasakan muraqabah kepada Allah SWT dan membiasakan selalu introspeksi, menanamkan dalam diri mereka dasr-dasar takwa dan takut kepada Allah. Jika kita dapat melaksanakan ini, berarti kita akan memcapai tujuan yang diharapkan dlaam pendidikan rohani anak-anak dan pembentukan sifat Rabbaninya.

Karenanya, setiap pendidik dan anak didik hendaknya sejalan dengan metode Islam dalam pendidikan rohani. Sehingga anak didik akan menjadi seperti malaikat berbentuk manusia, karena dalam diri mereka telah tertanam benih-benih takwa, iman dan muraqabah,serta di dalam hati mereka tealah terpancang pilar-pilar takwa, tawakal dan muhasabah (penuh perhitungan).

  1. c.    Ikatan Berpikir

Ikatan berpikir yaitu terjalinnya ikatan antara seorag muslim sejak kecil hingga dewasa dan tua, dengan peraturan Islam sebagai agama dan negara,dengan ajaran-ajaran Al-Quran sebagai undang-undang dan yurisprudensi, dengan ilmu-ilmu syariah sebagai metode dan hokum,dengan sejarah Islam sebagai roh dan teladan, dengan kebudayaan Islam sebagai kultur dan kebudyaan dan dengan metodologi dakwah Islam sebagai benteng dan garis depan.

Hakikat-hakikat sikap pendidik dalam membarikan kesadaran berpikir kepada anak didik, sebagai berikut:

a)         Kelestarian Islam dan kesesuiannya di segala tempat dan di sepanjang masa, karena memiliki keistimewaan ajaran yang universal, senantiasa actual dan berlaku terus-menerus.

b)        Orang-orang tua terdahulu, mereka tidak akan berhasil mencapai kemenangan dan kemuliaan yang telah mereka raih kecuali karena mereka memuliakan ajaran Islam serta menerapakan peraturan-peraturan yang digariskan Al-Quran.

c)         Menyingkap kultur yang telah dan masih merupakan mercusuar yang menerangi kehidupan uamt manusia di sepanjang sejarah kehidupan mereka.

d)        Menyingkap rencana-rencana kotor yang ditata musuh-musuh Islam.

e)         Selalu mengingat, bahwa uamat Islam tidak mungkin menegmbalikan kejayaannya, kecuali jika para pemeluk mrnjadikan Islam sebagai

f)         Selalu mengigatkan, bahwa kemunduran dan disentegrasi yang menimpa masyarakat islam, pengusaan yahudi imperialis yang memaksakan kehadirannya di Negara Palestina dan Masjidil Aqsba adalah akibat semakin renggangnya jarak antara kaum muslimin dengan Alloh.

g)        Selalu mengingatkan,bahwa prosfektif islam sangat optimis, bagaimanapun usaha jahat musuh dan rencana kaum kafir, seperti disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Iman Ahmad, Al-Bazzar dan At-Thayalisi dari Rasululloh Saw.

Dan sejarah telah mencatat tentang bencana yang menghancurkan, yang menimpa kaum muslimin selama beberapa kurun . ada beberapa akibatnya, an tara lain;

1)        Siapa yang mengira, akan kebangkitan kaum muslimin ketika tentara salib menguasai banyak Negara-negara Islam dan Masjidil Aqhsa selama hamper seabad? Siapa mengira bahwa negeri-nengeri ini akan  merdeka di bawah tangan pahlawan shalahudin yang gagah berani dalam peperangan Hittin yang sengit ini

2)        Siapa mengira akan adanya pejuang dari kaum muslimin ketika tentara Mongol dan Tartar memporak-porandakan Dunia Islam dari akar hingga keujungnya, menghancurkan jiwa, harta benda, dan kehormatan

Keyakinan dan kebenaran Islam berada di atas segala keyakinan dan kebenaran yang ada.

وَمَنْ ٲَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوْقِنُوْنَ   

Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah : 50)

  1. d.   Ikatan Sosial

Dalam pembahasan tanggung jawab pendidikan social pada bagian kedua dari buku ini kita telah membicarakan bahwa pendidik mempunyai pendidikan mempuyai tanggung jawab besar dalam pendidikan anak, khususnya membiasakan anak mengikuti etika-etika social yang mulia, membiasakan prinsip-prinsip spiritual yang bernilai tinggi yang bersumber dari akidah Islam yang abadi.

Yang dimaksud dengan menciptakan ikatansosial anak adalah hendaknya pendidikan berusaha sesuai dengan kemampuannya agar anak sejak kecil dapat belajar memahami akan akidah sesuatu yang berkenaan dengan lingkungan social yang berasih dan aman.

Menurut penulis lingkungan tersebut akan terealisasikan dalam tiga ikatan:

a)    Ikatan anak dengan pembimbing

Setiap orang menyadari bahwa jika anak mempunyai ikatan dengan seorang pembimbing yang alim,tulus dan saleh, mamahami hakikat Islam secara benar, senantiasa membela islam dan berjihad di jalannya, menjalankan hokum-hukuman, menaati segala perintah-perintah dan menjauhi segala larangan Allah, menjalankan kebenaran tanpa mempedulikan kecaman dan celaan orang, ingsa Alloh si anak akan sampai  kepada kesempurnaan iman dan akhlah, kematangan berpikir dan berilmu pengetahuan, serta akan terbentuk menjadi mujahid dan dai.

Abdulah mengirim puisi popular yang di antaranya berbunyi;

 

Wahai orang yang taat beribadah di Merdeka dan Madinah,

Seandainya kamu melihat kami,

Kamu akan mendapatkan

Bahwa kamu hanyalah main-main dengan ibadahmu itu.

Kudamu lelah

Karena kau pacu mengejar kebatilan,

Sedangkan kuda kami lelah

Untuk berperang mempertahankan kebenaran.

Pipimu basah

Dibanjiri air mata,

Sedangkan leher kami

Bercucuran darah

Bau semerbak di sekitarmu

Tertiup angin lembut,

Sedangkan angin yang bertiup kepada kami

Membawa debu derap kuda.

 

 

b)   Menciptakan ikatan anak dengan teman yang baik

pendidik hendaknya memperhatikan fenomena kesempurnaan pada diri anak dalam hubungannya dengan guru dan dengan teman yang baik. Sebab, jika terjadi ketidak seragaman antara dua hubungan ini, akan mengakibatkan dua bahaya besar.

Pertama, keraguan dalam pengarahan.

Kedua, penyimpangan dalam tingkah laku.

Yang dimaksud dengan keraguan dalam pengarahan adalah anak yang terdidik dibawah pengawasan seorang guru yang rabbani dan taqwa, dan bergaul dengan teman-teman yang tidak buta kesadaran dan pemahamannya terhadap Islam, maka anak terkadang akan terpengaruh mengikuti dan tertarik kepada mereka.

Sedangkan yang di maksud dengan penyimpangan dalam tingkah laku adalah anak ketika melihat gurunya yang rabbani atau kelompok Islam yang sigap, member Islam yang benar kepadanya, dan secara bersamaan juga mendapatkan pengalaman yang sangat bertentangan dengan Islam dari teman-teman sepergaulannya, maka tidak diragukan, si anak akan terpengaruh oleh realitas yang kontradiktif .

Apa yang kami  kemukakan dari kenyataan yang penting untuk diketahui dan harus dilakukan, tidak lain hanyalah untuk meningkatkan daya menyelamatkan anak dari lingkungan yang dapat menyebabkan kekufuran dan kesesatan. Kita tidak dapat nenyelamatkan anak dengan baik kecuali dengan memilih teman sekolahnya yang baik sadar dan sigap, yang dengan pergaulan itu, anak kita berhasil dan menerima pelajaran dan pembentukan kebudayaan, baik di tingkat sekolah dasar, lanjutan pertama, lanjutan atas, dan perguruan tinggi.

Para pendidik hendaknya membiasakan diri dengan kaidah-kaidah pendidikan yang murni dan dasar-dasar Islam yang kukuh, untuk menyelamatkan anak-anak  kita dengan dari kehilangan pegangan bertindak liar, dan penyimpangan.

Tidak ada alternatife lain untuk menuju kearah itu melainkan dengan memupuk persahabatan seperti yang kami singgung dan kami uraikan panjang lebar sebagaimana diatas, agar anda senantiasa paham mengenai persoalan, mendapat petunjuk didalam kehidupan, dan mengetahui  jalan.

Akhirnya, berikut ini beberapa pengarahan dan peringatan Islam perihal teman yang jahat dan rusak. Sehingga, kita tahu bagaimana Islam sangat memperhatikan sahabat yang shaleh, bahkan Islam memerintahkan untuk mendapatkannya.

c)      Ikatan anak dengan dakwah dan da’i

tidak syak  lagi, bahwa guru harus dijadikan pengikat bagi anak adalah pendidik anak yang mengacu pada ruh dakwah, jihad, merasakan tanggung jawab, dan senantiasa bergerak untuk menegakkan agama Allah. Guru tersebut adalah pencetak tentara kebenaran, penyeru Islam, penyampai risalah tuhannya, tanpa merasa takut kepada siapapun kecuali kepada Allah.

Satu hal yang sangat kita sadari secara yakin, bahwa ketika anak dalam massa senggang kita sibukkan dengan aktivitas dakwah, dibiasakan berhubungan dan berbicara dengan khalayak, maka kita telah mengisi waktunya dengan sesuatu yang mendatangkan manfaat serta meninggalkan bekas yang baik bagi masyarakat.

Akan tetapi, bagaimana mempersiapkan anak agar menjadi seorang yang dai ? tahapan apakah yang harus dilalui agar dia menjadi juru dakwah yang baik ? menurut hemat penulis, tahapan tersebut tersimpul dalam poin-poin dibawah ini :

  1. Persiapan mental dan spiritual

Yaitu dengan menggambarkan realitas pahit yang sedang dihadapi.

  1. Membuat Perumpamaan

Peran guru yang rabbani sangat penting dalam memberi keputusan kepada anak tentang pentingnya dakwah dan jihad dalam menyampaikan risalah allah guna meninggikan  panji  islam. Ada dua cara dalam membuat perumpamaan ini :

  1. Membuat perumpamaan untuk menghilangkan keputusan, memberikan harapan, dan membentuk sikap optimis.
  2. Mendorong seorang muslim agar bekerja, berkorban dan tabah, bagaimana pun macam rintangan yang dihadapinya.
  3. Menampakkan Keutamaan Dakwah kepada agama Allah

Dalam fase ini, pendidik hendaknya memusatkan pada pikiran anak tentang pahala besar yang bakal diperoleh para dai ketika menyerukan agama allah, menyampaikan risalah islam yang kekal kepada umat manusia. Juga memusatkan dalam pikirannya, bahwa para dai adalah sebaik-baiknya manusia.

Di samping itu memusatkan pikirannya, bahwa para dai adalah orang-orang yang beruntung dan memdapat kemenangan di dunia dan di akhirat. Juga memusatkan pikirannya, bahwa tidak ada seorangpun yang membandingi para dai di dalam kemuliaan, kedudukan dan kebaikan amalnya.

Pikiran anak juga diarahkan bahwa bagi dai akan disediakan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikuti petunjuk tanpa mengurangi pahala sedikit pun, sebagaimana yang dikatakan Rasulullah Saw.  Dan para dai, dengan dampak positif yang mereka tinggalkan di masyarakat, yang dengan cara itu Allah memberikan petunjuk, adalah lebih baik di banding apa yang ada di seantero jagad ini.

Apabila kita menceritakan realitas keutamaan dakwah itu kepada anak, ketika memusatkannya dalam pikirannya, menanamkan dalam-dalam pada jiwanya, san anak akan maju berdakwah dengan harapan akan mendapatkan pahala dari Tuhannya.

  1. Menerangkan Prinsip-prinsip yang Harus Diikuti dalam Menyampaikan Dakwah

Dalam fase ini, pendidik hendaknya menerangkan prinsip-prinsip yang harus diikuti dalam menyampaikan dakwah. Sehingga, san anak dapat mengikuti  langkah-langkahnya, tanpa ada kepincangan atau penyimpangan. Dengan demikian, bekasnya akan lebih dalam, hasil yang diperoleh juga lebih banyak.

Prinsip-prinsip yang dimaksud tersimpul di bawah ini :

  1. Memiliki ilmu pengetahuan tentang hukum bagi berbagai permasalahan yang ia serukan, atau ia larang. Dengan demikian,perintah atau larangannya senantiasa sesuai dengan hukum-hukum syariah dan prinsip-prinsip Islam.
  2. Segala perbuatannya selalu sesuai dengan ucapannya, agar orang-orang mau menerima petunjuk dan seruannya. Sungguh celaka orang-orang yang mengatakan apa yang mereka kerjakan. Sungguh dungu orang-orang yang menyuruh orang-orang berbuatan kebaikan, sedang mereka sendiri melupakan dirinya.
  3. Kemungkaran itu sudah disepakati tentang kemungkarannya, agar orang-orang tidak terjerumus pada kekacauan pikiran, spiritual, dan sosial disebabakan fanatismenya.
  4. Dalam upaya mengubah kemungkaran, sebaiknya dilakukan secara bertahap, agar tidak mengakibatkan sesuatu kesulitan yang di luar dugaan. Dimulia dari memberi  nasihat, menciptakan perasaan takut kepada Allah, mengemukakan ancaman, bersikap keras dengan perkataan, dan jika tidak mempan, barulah dengan tangan ( kekerasan dan kekuasaan ) sikap seperti ini disebut hikmah.
  5. Bersikap lemah lembut, santun dan berbudi luhur, agar dapat menguasai hati khalayak dengan kelemah lembutan dan keluhuran budinya, sehingga mereka akan memenuhi seruannya.
  6. Bersikap sabar dalam menghadapi cobaan, sehingga putus asa atau kalah dalam menghadapi kecongkakan orang-orang yang takabur, kedunguan orang-orang bodoh, atau cemoohan kaum pencela.

Demikianlah prinsip-prinsip terpenting yang harus diikuti dalam menyampaikan dakwah Islam, member petunjuk kepada umat manusia menuju jalan kebaikan. Semua itu hendaknya kita tunjukkan kepada anak sejak usia mumayyiz (dini) agar terbiasa, secara bertahap memahami fase-fase dan prinsip-prinsipnya, jadi, diharapkan di masa yang akan datang ia menjadi seorang dai yang disegani, diman a nasehat dan petunjuknya diikuti.

  1. Dari Pengarahan Menuju Penerapan

Pendidik beralatih bersama anak didiknya menjalani penerapan praktis dalam upaya mempersiapkan dimensi pendidikan sosial anak serta membentuknya sebagai juru dakwah. Sebaiknya, dalam fase permulaan pembentukan juru dakwah ini, para pendidik hendaknya menghubungkan anak dengan seorang dai yang tulus dan berpengalaman. Sehingga ia mendapatkan pengarahan, prinsip-prinsip dasar dakwah, dan membiasakan segi praktis dalam menyeru umat manusia kepada kebaikan.

Berikut ini sebagian nash-nash syariah dalam islam tentang pendidikan olahraga, persiapan militer, agar orang-orang yang berakal sehat mengetahui bahwa Islam adalah agama Allah yang kekal dalam dakwah untuk sarana kemuliaan, kekuatan, dan persiapan jihad. Islam mensyariatkan latihan olahraga, latihan jihad seperti gulat, lari, renang, memanah, dan menunggang kuda. Semua itu dimaksudkan agar umat islam mengambil hal-hal yang mendatangkan kemuliaan, kemenangan, dan kekuasaan.

Pada dasarnya ikatan olahraga dengan anak tidak akan memberikan buah yang diharapkan, tidak membawa kepada tujuan yang dicari, kecuali jika mengikuti metode yang telah ditentukan Islam. Berikut ini, karakteristik metode ini dan batas-batasnya :

  1. Menciptakan Keseimbangan (Equilibrium ).

Tidak dibenarkan  iktan olahraga dengan anak ini sampai mengalahkan kewajibannya. Seperti, waktunya tersita untuk main sepak bola, gulat, berlatih renang atau berlatih memanah, sehingga mengabaikan kewajiban beribadah dan menuntut ilmu.

  1. Menjaga Batasan-batasan yang Telah Ditentukan Allah

Si anak dalam berlatih perang dan olahraga, hendaknya memperhatikan dibawah-bawah ini :

  1. Pakaian olahraga anak, hendaknya menutupi aurat dari pusar hingga bawah lutut, sesuai dengan sabda Rasulullah Saw.
  2. Olahraga hendaknya dilakukan di tempat yang jelas halal haramnya.
  3. Memberikan simulan kepada yang berprestasi baik denagn mengadakan lomba berhadiah yang tidak haram.
  4. Meluruskan Niat

Pendidik yang mengajarkan pendidikan anak dan membentuknya dari segi kesehatan jasmani dan rohani, agar membisikan di telinga anaknya, bahwa apa yang dilakukan, seperti latihan olah raga jasmani, latihan kemiliteran dan perang ini, adalah untuk menguatkan kesehatan jasmani dan rohani, untuk persiapan perang.

  1. 2.        Prinsip Peringatan

Sebelum kita membicarakan peringatan penting yang haru diberikan kepada anak, hendaknya kita memahami terlebih dahulu dua hakikat di bawah ini :

Pertama : Peringatan secara terus menerus sehingga terpancang didalam hatinya kebencian terhadap kekejian dan kerusakan, serta lari meninggalkan gejala penyimpangan dan kesesatan.

Kedua : Menelanjangi fenomena penyimpanagan dan kesesatan yang dapat menambah rasa tanggung jawab pendidik, serta menambah pengarahan dan pengajaran dalam menjauhkan kejahatab dan kebatilan dari sanubari anak didik.

Berikut merupakan peringatan-peringatan yang terpenting:

  1. 1.     Peringatan dari Kemurtadan

Yang dimaksud dengan murtad adalah meninggalkan agama Islam, agama yang di ridai allah untuknya., lalu memeluk agama lain, atau akidah lain yang bertentangan dengan syariat Islam.

Di antara fenomena murtad adalah sebagai berikut : menyerukan semboyan – semboyan yang memalingkan orang Islam dalam keyakinannya bahwa agama islam tujuannya. Yang termasuk ke dalam kategori ini, di antaranya adalah :

  1. Bekerja untuk syiar fanatisme kesukuan dengan menjadikannya sebagaian tujuan yang diserukan, bekerja semata-mata untuk kepentingannya, berparang (siap mati ) untuk mempertahankannya.
  2. Bekerja untuk syiar nasionalisme (patriotisme) dan menjadikannya sebagai tujuan, serta berjuang mati-matian mempertahankannya.
  3. Bekerja memprogandakan humanism (kemanusiaan) saja, tanpa terbersit dalam sanubarinya, bahwa ia bekerja karena Allah Swt.
  4. 2.    Peringatan Kepada Kekufuran

Yang dimaksud dengan kekufuran adalah pengingkaran terhadap Dzat Tuhan, pengingkaran terhadap syariat samawi yang dibawa oleh para nabi, dan menolak setiap keutamaan dan nilai-nilai yang bersumber pada wahyu Illahi. Kekufuran adalah salah satu bentuk kemurtadan, bahkan lebih sesat, sebagaimana akan kita terangkan nanti.

Kekufuran ini menjadi peraturan yang mantap dan dianut oleh Negara-negara besar. Lebih dari itu, dipaksakan kepada orang-orang yang berada dibawah kekuasaannya dengan kekuatan besi dan panasnya api, dengan paksaan dan kesewenang-wenangan. Kekufuran, meski termasuk dalam pengertian kemurtadan, akan tetapi lebih buruk dan berbahaya terhadap individu dan masyarakat disbanding dengan kemurtadan lain, seperti menganut Yahudi, Nasrani, atau Brahmana.

Sebab kekufuran mematikan perasaan tanggung jawab dari diri seseorang dan menghancurkan mental spiritual keimanan kepada yang gaib serta sifat-sifat budi pekerti yang tetap.disamping itu kekufuran mendorong agar kehidupan manusia di dunia ini berjalan dengan cara hidup binatang, tanpa agama yang mengarahkannya, tanpa hati yang mengendalikannya, tanpa pengawasan Allah yang mengendalikannya, tanpa mengharapkan pahala di akhirat, dan tanpa takut kepada siksa di kemudian hari.

Dalam menghadapi orang-orang murtad dan kufur, Islam bersikap keras dan tegas. Islam meletakkan hukuman pancung dengan pedang sebagai balasan kekufuran dan tidak melakukan tobat.

Islam mewajibkan hukuman yang keras kepada orang-orang murtad dan kafir karena tiga sebab yaitu :

  1. Agar orang-orang yang berjiwa lemah tidak tertarik kepada rayuan yang membawa kepada kemurtadan dan kekufuran.
  2. Agar orang munafik tidak berpikir untuk masuk Islam kemudian keluar lagi, sebagai pemberian stimulant kepada gerakan murtad atau kafir dan menanam kekacauan di kalangan masyarakay Islam.
  3. Agar kelompok kafir tidak menjadi kuat, sehingga dapat membahayakan negara Islam, dan pada suatu situasi yang memungkinkan mereka bisa mrnghancurkan kaum muslimin.

 

  1. 3.     Peringatan terhadap Permainan yang Diharamkan

Islam dengan syariatnya yang luhur dan prinsip-prinsipnya yang bijak, mengharamkan kepada pemeluknya.

Beberapa macam hiburan dan permainan, karena bahayanya sangat besar terhadap moral individu, ekonomi masyarakat, eksistensi negara, kehormatan bangsa, dan keteguhan keluarga. Hanya Tuhanlah sebagai tujuan akhir dari segala usaha kita, dan hanya kepada-Nya pula kita mohonkan petunjuk dan pertolongan.

  1. Permainan dengan Meja (Dadu dan Triktrak)

Salah satu permainan dan hiburan yang diharamkan adalah permainan dadu, baik dengan taruhan maupun tanpa taruhan, atau semata-mata untuk hiburan.

Hikmah diharamkannya permainan ini, karena dadu meski tanpa taruhan dapat menyita banyak waktu, dapat melalaikan kewajiban agama, pendidikan dan keduniaan, disamping karena permainan itu sendiri sebagai sarana untuk bertaruh.

  1. Mendengarkan Lagu dan Musik

Hiburan yang diharamkan adalah mendengarkan lagu yang diiringi musik, meski lagi itu sendiri hukumnya mubah. Demikian pula, lagu jorok yang membangkitkan naluri seks dan hawa nafsu, termasuk lagu yang berbicara tentang anggota tubuh wanita dan mempropagandakan syiar kafir, serta prinsip-prinsip sesat.

Hikmah diharamkannya sangat nyata. Orang-orang yang menghadiri pagelaran lagu yang fasih, pagelaran music, tempat-tempat hiburan yang diramaikan oleh alat-alat music, apa yang mereka dapatkan darinya?

Mereka mendapatkan tarian telanjang dari wanita lacur dan hina. Mereka mendapatkan minuman yang memabukkan, teriakan-teriakan yang keluar dari mulut-mulut yang berbau minuman, dari pemabuk yang sempoyongan. Mendapatkan kata-kata kotor dan jorok, dengan tidak mengenal malu, dan perempuan-perempuan lacur yang tidak punya etika. Mereka menemukan dansa-dansa antara laki-laki dengan perempuan yang menjatuhkan kehormatan dan kemuliaan. Dengan kata lain, mereka mendapatkan keserbabolehan dengan penampilan yang terburuk.

  1. Melihat film (Bioskop), Sandiwara, dan Televisi

Dalam bahasan Tanggung Jawab Pendidikan Moral telah kami kupas, bahwa ditemukannya sarana-sarana informasi dan komunikasi modern, seperti radio, televise, tape recorder, bioskop dan peralatan lain, hasil kemajuan otak manusia pada zaman modern dan merupakan produk kultur materialism yang besar di abad kedua puluh, semuanya adalah senjata yang mempunyai dua ujung yang tajam, bisa dipergunakan untuk kebaikan dan juga untuk kejelekan. Jika mengikuti acara televise di negara kita, tampaknya kebanyakan acaranya bertentangan dengan prinsip-prinsip keutamaan dan kemuliaan, bahkan justru mengarahkan pelacuran dan kegiatan cabul, mendorong kerusakan, penyimpangan dan kerusakan mental, spiritual, dan sosial.

            Seperti halnya menonton televisi, yaitu mengunjungi gedung bioskop, gedung sandiwara malam, tempat-tempat hiburan dan sumber kedurhakaan lainnya, sesuai dengan dalil-dalil di bawah ini :

  1. 1.      Salah satu tujuan syariat islam sebagaimana telah ditetapkan adalah memelihara keturunan dan kehormatan. Sedangkan kebanyakan yang ditampilkan dalam film, sandiwara, dan tempat hiburan, menjurus kepada pengrusakan kehormatan dan kemuliaan, menghilangkan kehormatan dan keturunan. Karenanya, mengunjungi tempat-tempat tersebut dan melihat pertunjukannya dianggap sebagai perbuatan haram, melakukan dosa dan berhak mendapat murka Allah dan Rasul-Nya.
  2. 2.      Film-film modern dan sandiwara malam pada umumnya menyuguhkan acara yang menjurus kepada kerusakan moral, membangkitkan naluri seks dan hawa nafsu, serta mendorong perzinahan.
  3. 3.      Sebaimana telah diketahui, bahwa apa yang dipertunjukkan dalam bioskop, sandiwara malam, dan tempat hiburan, pada umumnya selalu diikuti dengan penampilan musik, lagu kotor, dan tarian telanjang.
    1. Main Judi

Termasuk mainan yang juga diharamkan menurut pandangan Islam adalah judi dengan segala macam dan bentuknya. Judi adalah setiap permainan yang dilakukan oleh lebih dari satu orang, yang dapat menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain dengan jalan kebetulan dan adu nasib.

Hikmah yang diharamkan jelas. Judi mengakibatkan manusia menggantungkan perhitungannya pada nasib, angan-angan kosong, bukan pada pekerjaan dan kesungguhan yang sesuai dengan cara-cara yang diisyaratkan. Judi merupakaan alat yang dapat menghancurkan rumah-rumah yang makmur, menguras kantong-kantong, mengakibatkan kesengsaraan keluarga kaya, membuat jiwa yang terhormat menjadi hina. Judi dapat menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara pelakunya, karena mereka saling memakan harta benda orang lain dengan cara batil dan memperoleh harta tidak dengan cara yang benar.

 

Macam-macam permainan halal yang diisyaratkan Islam :

  1. Lomba Lari (marathon)
  2. Gulat
  3. Main Panahan
  4. Main Tombak
  5. Menunggang Kuda
  6. Berburu

Adapun alat yang digunakan untuk berburu ada dua macam yaitu :

  1. Senjata Tajam, seperti pedang, panah dan tombak.
  2. Binatang pemburu yang dapat dilatih, seperti anjing, singa, dan burung elang.

Beberapa Hukum Umum yang berkaitan dengan berburu :

  1. Pemuru hendaknya berniat ketika berburu untuk makan dan mengambil manfaat.
  2. Hendaknya pemburu itu tidak sedang dalam keadaan ihram.
    1. Diisyaratkan berburu dengan alat yang menembus dan mengoyak, bukannya dengan alat yang berat (untuk diharamkan)
    2. Hendaknya pemburu itu membaca basmalah ketika melepaskan senjata dan atau binatang pemburunya yang sudah terlatih.
    3. Jika binatang buruan jatuh ke air dan ketika diangkat sudah mati, maka tidak boleh dimakan.

 

  1. Main Catur

Permainan catur berbeda dengan permainan dadu dari dua segi :

Pertama, permainan dadu berkaitan dengan adu nasib, sehingga serupa dengan mengundi nasib dengan anak panah. Sedangkan, catur berkaitan dengan kecerdasan otak dan kemahiran pengaturan strategi. Maka ia serupa dengan lomba memanah.

Kedua, dalam bermain catur terkandung latihan strategi perang, sedangkan dalam permainan dadu terjadi pembuangan waktu dan hiburan yang tidak mendatangkan manfaat.

Mereka yang membolehkan main catur masih menentukan tiga syarat :

  1. Pemain catur tidak boleh mengakhirkan salat dari waktunya.
  2. Para pemain tidak mensyaratkan taruhan, karena bisa berubah menjadi judi.
  3. Para pemain (selama permainan berlangsung) harus menjaga lidahnya dari perkataan kotor.
    1. 4.     Peringatan untuk Tidak Mengikuti (Ikut-ikutan) Secara Buta.

Di antara hal penting yang harus diperhatikan oleh pendidik adalah memperingatkan anak dari sikap mengikuti secara buta, tanpa menggunakan alat pikiran. Sikap seperti ini harus harus dijauhkan dari anak-anak karena beberapa hal dibawah ini:

  1. Mengikuti secara buta (ikut – ikutan) merupakan ciri kekalahan rohani dan kehilangan kepercayaan diri
  2. Mengikuti secara buta seringkali mendorong lahirnya fitnah kehidupan dunia dan gejala – gejalanya
  3. Mengikuti secara buta dalam hal moral yang rusak
  4. Mengikuti secara buta dapat menghancurkan umat dan bangsa
  5. Mengikuti secara dapat membuat orang – orang terhanyut oleh arus kebiasaan
  6. Mengikuti secara buta dapat merupakan faktor terbesar dalam melemahkan ingatan, menghancurkan kepribadian, dekadensi moral,membunuh kelelakian,tersebar luasnya penyakit, mencabut akar kemuliaan dan sikap menahan diri dariperbuatan dosa, menyebabkan lepas kontrolnya naluri dan sikap kebebasab hawa nafsu

Oleh karena itu tidaklah aneh islam melarang menyerupai dan mengikuti secara buta.

Adapun mengikuti dalam segala hal yang mendatangkan manfaatkan bagi umat islam secara ilmiah, disamping dapat memajukan secara material maupun kultural, seperti ilmu kedokteran, arsutektur, dan hasil teknologi lainnya, diperbolehkan dengan kesepakatan ulama, karena masalah ini termasuk apa yang dimaksud Firman Allah:

 

وَأَعِدُّوالهُمْ مَاسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّۃٍ

“ Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi “ (QS. Al-Anfal: 60).

Diantara gejala mengikuti secara membabi buta yang terpenting yang melanda wanita kita diantaranya:

–   Banyaknya eanita yang keluar rumah berpakaian tapi telanjang, tidak menutup aurat

–   Mereka mengenakan kerudung dan pakaian hitam ketika ditimpa musibah kematian, menyerupai orang nasrani

–   Mereka berkumpul dalam pesta huburandn perkawinan yang dihadiri olehpenyanyi wanita dan tarian

–   Mereka bersumpah dengan selain Allah, baik ketika marah atau tidak

–   Mereka tampil tanpa menutup aurat dihadapan orang yang bukan muhrimnya

Diantara gejala mengikuti secara buta yang juga melanda pemuda kita adalah sikap kebancian, laki – laki menyerupai wanita, dan sebagian mereka bahkan mengutarakan argumentasi, “ Bila Rasullah Saw. memanjangkan rambutnya hingga melampauikedua telinganya, maka kepada para ulama mengingkarilaki – laki berambut panjang?” Kepada mereka kita katakan:

  • Dalam hal adanya hadist yang memberitaan, bahwa Rasullah Saw. memanjanakan rambutnya, maka beliau tidak pernah keluar rumah dengan menguraikan rambutnya.
  • Laki – laki berambut panjangsaat ini lebih merupakan pertanda dekadensi moral.
  • Bukankah laki – laki yang memanjangkan rambutnya hingga bahu adalah jelas menyerupai wanita, dan Allah melaknatnya.
  • Apakah seorang muslimin yang melakukan hal yang dikutuk Allah itu rela digolongkan ke dalam golongan serangga, kumbang yang menjijikan itu, menyerupai bentuk dan geak-geriknya.

 

  1. 5.         Peringatan dari Berteman dengan orang jahat

Pergaulan yang rusak sebagai faktor cukup penting bagi timbulnya penyimpangan anak secara kejiwaan da moral. Penyimpangan merupakan adat kebiasaanya yang sukar ditinggalkan. Ketika itu, teramat sukar bagi pendidik untuk mengembalikan anak pada jalan yang lurus, dan menyelamatkan dari jurang kenistaan.

Islam mengarahkan mereka agar mencegah anak – anaknya dari bergaul dengan orang-orang jahat, sehingga anak – anak tersebut tidak terperangkap dalam kejahatan dan kesesatan mereka.

  1. 6.         Peringatan dari Kerusakan Moral

Dalam tanggung jawab pendidikan moral:

  1. Gejala dusta
  2. Gejala mencuri
  3. Gejala kerusakan moral

Dalam tanggung jawab pendidikan jasmani:

  1. Gejala meroko
  2. Gejala masturbasi
  3. Gejala minuman keras dan obat bius
  4. Gejala zina da homoseks

Para hli pendididkan dan moral bersepakat, bahwa gejala – gejala di atas merupakan gejala paling berbahaya yang dapat mengancam moral dan tingkah laku anak.

Jika para pendidikan tidak memberikan peringatan, pengawasan dan nasehat kepada mereka, maka tidak diragukan lagi anak – anak akan terjerumus ke jurang kenistaan yang paling dalam.

  1. 7.    Peringatan dari Melakukan Sesuatu yang Haram

Haram seperti definisi yang diberikan ulama ushul , adalah yang diminta oleh syariat untuk meninggalkannya, disediakan hukuman Allah diakhirat, atau hukuman Allah di akhirat, atau hukuman syariat di dunia.

Hendaknya para penddik mengerti, bahwa sesuatu yang halal adalah yang dihalalkan Allah sedang yang haram adalah yang memang diharamkan Allah.

  1. a.    Makanan dan Minuman yang Haram
    1. Bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih sean atas nama Allah, hewan tercekik, dipukul, jatuh, ditanduk, diterkam bnatang buas, kecuali jika sempat menyembelihnya, dan binatang yang disembelih untuk berhala, semuanya haram dimakan. Syariat Islam mengecualikan bangkai yang diharamkan itu, yakni ikan, belalang. Darah, yakni hati dan limpa. Hikmah pngecualian ini adalah, untuk menyelamatka kehidupan dari kematian ( akibat kelaparan) dan tidak terlalu mempersulit kehidupan manusia.
    2. Daging keledai piaraan, binatang buas bertaring, dan burung yang mempunyai kuku serta cakar yang tajam.
    3. Binatang yang disembelih bukan dengan cara yang disyariatkan Islam, seperti dengan aliran listrik, atau disembelih oleh orang kafir, majusi, atau penyembah berhala
    4. Meminum – minuman keras dan menggunakan obat bius. Meninum minuman keras yang memabukan dan menggunakan obat bius adalah haram menurut kesepakatan para ulma. Syariat Islam dalam upaya menutup jalan kemungkaran, telah mengharamkan bagi orang Islam menjual anggur kepada oarang yang suka membuat khamar.

Sedang obat – obatan yang sedikit dicampur alkohol, sebagai bahan pengwet, dibolehkan dengan persyaratan sebagai berikut:

1)      Sudah yakin, bahwa terdapat bahaya hakiki bagi kesehatan jika tidak menggunakan obat tersebut.

2)      Tidak ada obat lain yang halal, yang dapat mengganti kedudukan obat beralkohol tersebut

3)      Hendaknya sudah diperiksa oleh seorang dokter muslim yang dapat dipercaya dari segi pengalaman dan agama

Sebab, sesungguhnya prinsip – prinip Islam itu didasarkan pada kemudahan, menolak kesukaran dan merealisasikan kemaslahatan.

  1. b.         Pakaian dan perhiasan haram

Islam dengan prinsip – prinsipnya yang toleran telah membolehkan pemeluknya untuk tampil dengan pakaian dan gayanya di hadapan masyarakat secara layak dan terhormat. Oleh karena itu, Allah menciptakan perhiasan dan pakaian yang dinikmati.

Allah berfirman:

“ Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan.” (QS. Al A’raf: 26)

Di antara perhatian Islam terhadap penampilan adalah perintah Islam untuk menjaga kebrsihan. Perhatian Islam lainnya terhadap penampilan adalah menganjurkan untuk menjaga kebersihan dan berhias diri di tempat pertemuan, waktuJum’at dan dua hari raya.

Hanya saja Islam mengharamkan terhadap muslim laki – laki beberapa macam perhiasan dan pakaian, serta mengharamkan suatu model penampilan, sebagai berikut:

  1. Emas dan Perak
  2. Penampilan yang Menyerupai Lawan Jenis
  3. Busana Kepopuleran dan Kesombongan
  4. Mengubah ciptaan Allah
  5. Mencukur jenggot
  6. Bejana-bejana emas dan perak

Menjadikan emas dan perak sebagai tempat makan -minum dan membuat tempat duduk dari sutra adalah haram. Pengharaman ini mencakup bagi laki-laki dan perempuan.Hikmahnya adalah pensucian rumah muslimah dari materi mewah yang tercela dan menghindarkan gejala kesombongan yang di murkai Allah.

  1. Lukisan dan patung

Berbagai jenis patung yang berbentuk badan (patung) ataupun tidak (lukisan), baik yang mempunyai bayangan maupun tidak punya bayangan, baik dibuat secara professional ataupun amatiran, semuanya di haramkan karena perbuatan itu menyamai ciptaan Allah.   Yang menguatkan diharamkannya, sebagai mana telah diriwayatkan oleh Bukhari bahwa RAsulullah Saw.tidak mau masuk ke Ka’bah setelah penaklukan Mekkah, sampai patung yang ada didalamnya dikeluarkan.

Ada lukisan yang dikecualikan yaitu lukisan pohon-pohonan dan segala sesuatu yang tidak bernyawa. Masalah patung juga ada yang dikecualikan, yaitu boneka mainan anak-anak, karena tidak bermaksud untuk pengagungan dan kemewahan.

Asy-Syaikhan berkata. “Dalam hadis-hadis ini terdapat dalil, bahwa dibolehkan member anak-anak kecil mainan petung yang berbentuk boneka. “Diriwayatkan dari Imam Malik bahwa laki-laki makruh membelikan anak-anak gadisnya mainan berupa boneka. Al-Qadhi Iyadh berkata. “Boneka untuk gadis kecil merupakan rukhsan (dispensasi).”

Dengan mengubah gambar lukisan dan menghilangkan cirri-ciri makhluk bernyawa dapat menjadikan gambar lukisan itu halal.

Adapun gambar dengan peralatan, yang lazim kita kenal dengan istilah foto. Pada dasarnya masuk keumuman dalil yang mengharamkannya kecuali yang sangat terpaksa dan untuk kemaslahatan. Misalnya foto untuk kartu tanda pengenal, passport, gambar orang-orang jahat, atau untuk alat peraga, dan sebagainya. Ini semua dibolehkan karena masuk dalam kaidah umum yang mengatakan, “Darurat itu dapat menjadikan yang di larang jadi boleh.”

Yang perlu menjadi perhatian adalah banyak keluarga yang mengaku islam menggantungkan gambar (foto) dalam ukuran besar di dinding rumahnya dengan alas an untuk mengenang ayah, kakek, atau keluarga. Mereka menghias patung-patung makhluk bernyawa dan diletakan disana-sini. Bahkan dihias dengan permadani dinding yang bergambar makhluk bernyawa. Perbuatan seperti itu adalah jahiliyah, bahkan merupakan gejala penyembahan berhala yang ditentang Islam. Karenanya, para ayah hendaknya membersihkan rumah dari barang-barang yang diharamkan, agar mereka mendapat keridhaan Allah.

  1. c.          Kepercayaan Jahiliyah yang Haram

Sesuatu yang ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Swt. Dan tidak akan ditempatkan kepada seseorang kecualli orang yang diridhai:

فَلا يُظْهِرُعَلٰي غَيْبِهِ أَحَدًاإِلاَّمَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَسُوْلٍ الْغَيْبِ عَالِمُ

“(Dia adalah Tuhan) Yang mengatahui yang ghaib, maka Dia tidak mempelihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya.” (QS. Al-Jin: 26-27)

Siapapun yang mengaku dirinya dapat mengetahui yang ghaib, berarti telah berdusta kepada Allah, kepada kenyataan dan khalayak.

Allah berfirman :

قُلْ لاَيَعْلَمُ مَنْ فِيْ السَّمٰوَاتِ وَاْلٲَرْضِ الْغَيْبَ ٳِلاَّ اللّٰهُ وَمَايَشْعُرُوْنَ ايَّانَ يُنْعَشُوْنَ

“Katakanlah : Tidak ada seorang pun di langit di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (QS. An-Naml: 65)

Tidak ada malaikat, tidak ada jin, tidak pula ada manusia dapat mengetahui yang gaib, kecuali yang diberitahu olah Allah. Allah Swt. Telah menggambarkan tentang jin Nabi Sulaiman :

ٲَنْ لَوْكَانُوْايَعْلَمُوْنَ الْغَيْبَ مَا لَبِشُوْافِي الْعَذَابِ الْمُهِيْنِ

“Bahwa kalau sekitarnya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan teteap dalam siksa yang menghinakan.” (QS. Saba’ : 14)

Atas dasar ini, Islam mengharamkan kepercayaan-kepercayaan di bawah ini:

  1. 1.      Membenarkan Dukun

Rasulullah Saw. Bersabda: “Barangsiapa dating kepada peramal, dan bertanya kepadanya tentang sesuatu kemudian ia membenarkan apa yang dikatakan peramal tersebut, maka salatnya tidak diterima selama empat puluh hari.” (HR. Muslim)

“Barangsiapa datang ke dukun dan memberikan apa yang dikaratannya, maka ia telah mengingkari apa yang telah dirurunkan kepada Muhammad Saw.” (HR.Al-Bazzar)

Hadis-hadis di atas, jelas bahwa penentangan Islam tidak hanya ditunjukan kepada para dukun dan peramal saja, tetapi juga kepada orang-orang yang membenarkan dan mempercayai perkataan mereka.

  1. Mengundi Nasib dengan Anak Panah

Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkurban untuk)berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapatkan keberuntungan.” (QS. Al-MAidah: 90)

Maksud dari Al-Azlam adalah anak panah yang belum dipasangi bulu. Orang Arab jahiliah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan sesuatu perbuatan baik atau tidak. Caranya, mereka mengambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. Setelah ditulis, masing-masing dengan “Tuhanku Menyuruhku”,”Tuhanku Melarangku”, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, kemudian diletakkan dalam sebuah tempat di dalam Ka’bah. Bila mereka hendak melakukan sesuatu perbuatan atau perjalanan, peperangan atau perkawinan, mereka mengambil salah satu dari ketiga anak panah tersebut. Kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, maka undian di ulang sekali lagi atau beberapa kali lagi. Sampai anak panah yang menyuruh melakukan atau anak panah yang melarang.

Dalam masyarakat Islam sekarang terdapat pula perbuatan seperti itu. Misalnya melemparkan kerikil, kulit siput dan membuka tempat semacam cangkir (gelas), dan yang sejenisnya.

Rasulullah bersabda : “Tidak akan mendapatkan derajat yang tinggi orang pergi ke dukun atau mengundi dengan anak panah, atau pulang dari perjalanan dengan pesimis (berdasarkan ramalan).” (HR. Thabrani)

Jika Islam mengharamkan mengundi nasib dengan anak panah dengan mengjadikannya sebagai perbuatan syirik, Islam mengajarkan kepada para pemeluknya untuk salat istihkarah (minta pilihan yang baik).

  1. Sihir

Islam juga mengharamkan seorang muslim pergi kepada dukun dan peramal untuk bertanya tentang hal-hal yang ghaib dan rahasia. Demikianlah pula pergi ketukang sirih untuk menyingkap hal-hal yang tersembunyi, atau menyelesaikan suatu permasalahan, tau untuk mencelakakan orang.

Rasulullah Saw.bersabda :“Bukan dari golongan kami orang yang bersifat pesimis (kurang percaya diri) atau membuat orang lain berbuat pesimis, atau pergi ke dukun, atau penyihir atau disihirkan untuknya.” (HR. Al-Bazzar)

Ibnu Hibban dalam shahihnya meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. Bersabda: “Tidak akan masuk surga pencandu minuman keras, tidak pula orang yang percaya kepada sihir, dan tidak pula orang yang memutuskan silaturahminya.”

Para fikih menganggap belajar sihir itu kafir, atau dapat menyebabkan kafir. Sebagian lain mewajibkan membunuh tukang sihir sebagai pensucian masyarakat dari kekotorannya, dan sebagai tindakan preventif terhadap akidah umat agar tidak dimasuki penyimpangan dan kerusakan.

Al-Quran telah mengajarkan kita untuk memohon perlindungan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang yang menghembus pada buhul-buhul, yang dapat memisahkan antara seorang suami dengan istrinya, dan yang dapat menyebabkan timbulnya bahaya bagi manusia.

Kita dianjurkan membaca dua surat mohon perlindungan (Mu’awwidzatain), agar memperoleh perlindungan dari kejahatan jin dan kejahatan tukang sihir, yang menghembus pada buhul-buhul.

  1. Menggantungkan Jimat

Tamimah (penangkal atau jimat) adalah sesuatu yang digantungkan pada anak kecila atau orang dewasa. Berupa kain bertuliskan huruf-huruf yang tidak terbaca atau kulit siput, permata yang berlubang, atau sejenisnya, yang diyakini, bahwa benda-benda tersebut dapat menyembuhkan penyakit, menolak bala dan mara bahaya.

Jika jimat yang di tulis arab yang jelas, atau dapat dimengerti maknannya oleh orang lain, dengan doa yang berasal dari Rasulullah dan dengan apa yang telah ditetapkan dalam sunah tentang khasiat beberapa ayat Al-quran dan surahnya, seperti doa surat al-Falaq dan An-Naas untuk memohon perlindungan, maka sebagian ahli fikih membolehkannya. Demikian pula penangkal dengan membacakan Al-Falaq, An-Naas, dan dan surat Al-Fatihah dibacakan kepada orang yang sakit,atau yang disentuh roh-roh halus. Kemudian disapu dengan tangan dan di tiup dengan mulut tanpa mengeluarkan ludah.

Imam  An-Nawawi, Hafidz Ibnu Hajar dan lainnya menukilkan ijmak tentang diperbolehkannya menurut syariat, penangkal ruqiy (pengobatan atau perdukunan) jika memenuhi tiga syarat:

  1. Hendaknya dengan firman-firman Allah (ayat-ayat Al-quran), dengan nama-nama-Nya, atau dengan sifat-sifat-Nya.
  2. Hendaknya dengan bahasa arab atau dengan bahasa yang dapat di mengerti oleh orang lain.
  3. Hendaknya berkeyakinan, bahwa penangkal itu sendiri tidak memberikan pengaruh sedangkan yang berpengaruh adalah Dzat Allah Swt.

Di antara penangkal yang diajarkan Rasulullah Saw. Dalam melindungi anak kecil adalah apa yang diriwayatkan Bukhari dan Ibnu Abbas r.a: Rasulullah Saw. pernah memohon perlindungan untuk Hasan dan Husain: “Aku mohon perlindungan untuk kamu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala setan dan serangga-serangga yang menyakiti, dan dari setiap kejahatan.”

  1. Bersikap Pesimis

Al-Bazzar dan Thabrani meriwayatkan bahwa, Rasulullah Saw.bersabda: “Bukan daari golongan kami orang yang bersifat pesimis (kurang percaya diri) atau membuat orang lain bersifat pesimis…”

Abu Dawud, An-Nasai dan Ibnu Hibban meriwayatkan dalam shahihnya, bahwa Nabi Saw.bersabda: “Menggaris dipasir , bersikap pesimis dan melempar dengan krikil adalah termasuk salah satu kegiatan menyembah kepada selain Allah.”

Al-‘Iyaafah adalah menggaris di atas pasir, yang merupakan salah satu bentuk perbuatan tukang ramal yang maasih berlangsung hingga sekarang.

At-tharq adalah melempar kerikil, yang juga merupakan salah satu bentuk ramalan.

Al-Jibt adalah sesuatu yang disembah selain Allah.

Orang arab pada   zaman jahiliyah juka mendengar suara burung gagak, burung hantu, atau melihat burung melewat dari arah kanan kea rah kiri, maka mereka bersikap pesimis, sehingga membetalkan pelaksanaan pekerjaan apa saja. Sebab, menurut kepercayaan mereka jika mereka mengerjakan akan mendapatkan kesialan. Rasulullah melarang dan memberitakan bahwa hal tersebut tidak memberikan pengeruh apa-apa dalam hal manfaat atau menolak bahaya. Hanya Allah-lah yang mengatur semuanya itu.

Ibnu Adiy meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah bersabda: “Jika kamu melihat tanda-tanda kesialan, janganlah pesimis, kerjakan apa yang hendak kalian kerjakan dan kepada Allah-lah kelian bertawakal.”

Sikap pesimis dengan suatu tampat, waktu, atau binatang adalah bukan dari ajaran islam dan hukumnya haram. Yang menentukan baik buruk adalah Allah semata. Karena seorang muslim hendaknya terus menerus melakukan pekerjaan dan bertawakal  kepada Allah tanpa terhambat oleh perasaan pesimis hanya karena melihat burung terbang atau mendengar suara burung hantu.

d     .           Mencari Penghidupan (nafkah) yang Haram

Berikut cara – cara mencari penghidupan yang haram, seperti yang ditetapkan oleh Islam:

  1. Menjual sesuatu yang diharamkan

Menjual minuman keras, patung makhluk bernyawa, babi, alat music dengan segala macamnya, salib, kartu undian, kartu judi, semuanya adalah haram.

Hikmah diharamkannya adalah sebahai upaya menghindarkan dari memperhatikan kepada barang-barang tersebut dan menjauhkan orang – orang dari jual beli dari benda itu. Juga untuk melaksanakan masyarakat dari bahaya kesehatan jasmani dan rohani yang mengancam kestabilan social dan keluhuran moral.

  1. Menjual barang yang misteri

Menjual barang yang misteri itu dilarang karena tidak tentu macam dan banyaknya barang yang hendak di jual. Bahkan belum tentu si pembeli akan mendapatkan barang yang sesuaidengan uang yang dikeluarkan. Sehingga tidak mustahil akan mengakibatkan  pertengkaran dan permusuhan antara pembeli dan penjual. Selain berbahaya bagi kepentingan  ekonomi, karena juga adanya ketidak jelasan dan kepercayaan antara mereka.

  1. Menjual berdasarkan tujuan pertimbangan dan mempermainkan harga

Rasulullah Saw.bersabda :“Tidak membahayakan (untuk diri sendiri) dan tidak membehayakan (orang lain).” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Islam mencintai kebebasan dalam transaksi komersial agar kehidupan ekonomi berjalan baik sesuai dengan kebutuhan konsumsi, di samping sebagai penyegaran bagi lapangan kehidupan pasar.

  1. Menjual berdasarkan penimbunan barang dengan tujuan monopoli

Yang di maksud dengan penimbun adalah seorang pedegang memnyembunyikkan keebutuhan-kebutuhan pokok manusia, kemudian dikeluarkan pada saat harga tinggi. Mirip dengan menimbun adalah penjualan yang dilakukan orang kota untuk barang yang di bawa oleh orang dusun.

  1. Menjual dengan cara menipu

Yang dimaksud dengan menipu adalah menampakan sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan tanpa diketehahui oleh pembelinya.

Rasulullah melarang banyak bersumpah meski sumpahnya banar, karena perbuatan tersebut dapat menimbulkan ketidakpercayaan diantara orang yang berjual beli, dan menyebabkan hilangnya pengagungan nama Allah dari hati

Termasuk ke dalam jenis penipuan adalah mengurangi takaran dan timbangan sebagai mana yang telah difirmankan Allah Swt dalam QS. Al-Mutaffifin: 1-6)

Al-Quran telah mengisahkan kepada kita tentang suatu kaum yang sewenang-wenang dalam perniagaan. Mereka curang dalam menakar dan menimbang. Karenanya, Allah mengutus Rasulullah yang yang memperingatkan dan mengembalikan mereka ke jalan yang lurus.

  1. Jual beli barang curian dan barang sitaan

Diharamkannya jual beli barang curian dan sitaan adalah untuk mempersempit usaha mencari harta dengan cara haram, agar gejala dan akibat kejahatan dapat dicegah.

  1. Mencari harta dengan cara riba (membungakan uang) dan judi

Islam mengharamkan segala usaha komersial yang memakai riba (bunga), baik itu riba nasiah, riba fadhal, riba investasi, maupun riba konsumsi, baik bunganya sedikit ataupun banyak. Semua ini termasuk dalam larangan Allah dengan firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah: 275)

Pengharaman Islam terhadap riba karena sebab-sebab berikut ini:

  1. Tidak ada kesesuaian antara  usaha dengan hasil.

Tidak ada kesesuaian antara  usaha dengan hasil, karena orang yang member pinjaman berbunga (renternir) tidak berusaha, tidak bekerja dan tidak menanggung kerugian. Tetapi ia mendapat harga dan keuntungan, tak peduli orang yang meminjamnya menderita kerugian atau tidak.

  1. Rusaknya ekonomi masyarakat.

Rusaknya ekonomi masyarakat karena menganggurnya orang-orang yang meminjamkan barang (uang) dengan bunga, dan membiasakan mereka dalam kemalasan, sambil terus menginginkan keuntungan yang besar dalam kemalasan, sambil terus meninginkan keuntungan yang besar di atas jerih payah orang yang dipinjaminya, yang membanting tulang utnuk mengembalikan uang pook dan bunganya.

  1. Rusaknya moral masyarakat

Rusaknya moral masyarakat karena tidak adanya kerjasama (tolong menolong) antara wargannya. Bahkan bisa mengakibatkan rusaknya keutuhan struktur masyarakat karena tersebarnyaegoisme, sebagai ganti dari pengorbanan, kasih sayang dan mendahulukan kepentingan orang lain.

  1. Menjadikan masyarakat terbagi menjadi dua golongan yang saling bermusuhan

Menjadikan masyarakat terbagi menjadi dua golongan yang saling bermusuhan Karena riba menjadikan masyarakat terbagi menjadi dua golongan yang saling bermusuhan : golongan pemodal dengan capital mereka dan golongan yang jerih payah, dan usahanya termakan oleh pemodal bukan dengan jalan yang benar.

  1. Karena riba adalah usaha pengembangan prinsip-prinsip kafir yang destruktif, yang disebarluaskan di kalangan masyarakat islam.

Berdasarkan alasan-alasan di atas, Islam mengharamkan riba dan digolongkan ke dalam dosa-dosa besar. Perlakuannya berhak mendapatkan laknat Allah, malaikat, dan semua manusia hingga hari kiamat.

Adapun cara-cara yang dianut oleh Islam untuk membebaskan diri dari riba adalah sebagai berikut:

  1. Islam membolehkan syirkalut mudharabah (serikat dagang), yakni kepital dari seseorang kemudian dikelola (diusahakan) oleh orang lain. Keuntungan dibagi dua sesuai dengan prosentase yang telah disepakati bersama. Jika rugi, penanggung kerugian adalah yang mempunyai capital. Sedang orang yang mengelolanya, ia tidak ikut mananggung, karena cukup baginya dengan pengorbanan waktu dan tenaga dalam mengembangkan modal tersebut.
  2. Islam memperkenankan penjualan salam (pesanan), yaitu pennjualan suatu barang dengan  pembayaran didahulukan. Pihak yang sangat memerlukan uang dapat menjual sesuatu pada musim dihasilkannya dengan harga yang sesuai dengan persyaratan seperti tercantum dalam buku-buku fikih.
  3. Islam memperkenankan penjualan secara kredit, denga tambahan harga disbanding penjualan kontan. Islam membolehkannya untuk memudahkan dalam kemaslahatan manusia dan untuk menghargai aktivitas riba.
  4. Islam menganjurkan berdirinya lembaga-lembaga qiradh (simpan pinjam) yang baik, secara individual atau di bawah pengelolaan pemerintah, untuk merealisasikan prinsip solidaritas sisoal antar umat manusia.
  5. Membuka lembaga-lembaga atau badan zakat, yang berfungsi untuk mneolong orang-orang yang tidak dapat membayar hutang, orang-orang yang tidak punya, atau orang musafir yang kehabisan bekal.

e.  Tradisi Jahiliyah yang Haram

Pada masa sekarang kaum muslimin telah dimasuki kebiasaan dan tradisi yang sangat tidak terpuji, yaitu terjadi tradisi Jahiliyah.

Berikut ini tradisi Jahiliyah terpenting yang menguasai mereka:

  1. Membela fanatisme golongan

Mereka berjuang demi kemenangan kaum dan kerabatanya, tanpa memendang apakah mereka itu benar atau salah.

  1. Membanggakan keturunan

Rasulullah sangat murka kepada orang-orang yang mengagung-agungkan dan membangga-banggakan keturunan melalui sabdanya yang tegas dan tajam, “Hendaknya kaum itu benar-benar berhenti dari membangga-banggakan nenek moyang mereka yang telah mati, sesungguhnya mereka adalah arang api neraka jahanam. Atau mereka benar-benar akan lebih hina di sisi Allah dari pada kumbang yang mengguling-gulingkan kotoran dengan hidungnya. Sesungguhnya Allah telah melenyapkan dirimu kemegahan Jahiliyah dan kebanggaan nenek moyang. Sesungguhnya yang dipandang hanyalah apakah ia seorang mukmin yang bertakwa, atau seorang durhaka yang nista. Manusia semuanya adalah anak cucu Adam, dan Adam diciptakan dari tanah.”

  1. Meratapi orang mati

Tradisi lain yang ditentang oleh orang islam adalah meratapi orang mati dan berlebih-lebihan dalam menampakan kesedihan. Misalnya, menampar pipi sendiri, merobek baju, dan melukai wajah. Sikap ini merupakan suatu bentuk dari tradisi Jahilyah turun temurun. Linangan air mata tanpa menangis berlebihan dan bersedih hati tanpa berkeluh kesah, dibolehkan. Sebab perbuatan ini sesuai denga etika Islam dan fitrah manusia.

Hal-hal yang perlu diingat dalam meratapi mayat:

  1. Tidak dihalalkan bagi orang muslim mengenakan pakaian yang dilambangkan belasungkawa dan duka  cita, seperti menaggalkan pakaian baru atau tidak mau berbusana. Sebab kebiasaan ini termasuk kebiasaan orang kafir atau bangsa asing non Islam.
  2. Termasuk menyerupai dan mengikuti secara buta, adalah meletakan karangan bunga dalam keranda mayat atau diatas kuburan. Perbuatan ini selain meniru perbuatan orang kafir, juga menggunaakan harta dalam hal yang tidak layak. Meletakan sebagian tumbuhan dan bunga tanpa dibentuk karangan,dibolehkan sesuai dengan sunah Nabi : Muslim meriwayatkan dari Ibmu Abbas r.a., “Rasulullah Saw.melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya kedua orang yang terbaring di dalam kuburan ini sedang disiksa. Mereka disiksa bukan karena dosa besar. Salah satu dari keduanya karena suka mengadu domba dan yang satunya lagi jika buang air kecil tidak bersuci darinya. ‘Rasulullah Saw.minta diberi pelapah pohon kurma yang masih hijau, lalu beliau membelahnya menjadi dua. Belahan yang satu ditanamkan pada kuburan yang lain. Kemudian beliau bersabda, “Siksanya akan diperingan selama kedua belah pelepah ini belum kering.”
  3. Meletakan foto mayat pada keranda, atau memasangnya di rumah duka. Perbuatan ini selain mengikuti adat budaya asing, juga termasuk melakukan yang diharamkan karena membuat foto tanpa kebutuhan yang sangat diperlukan adalah diharamkan.
  4. Mengalunkan music dika di hadapan keranda atau dirumah duka. Kebiasaan ini merupakan adat orang kafir yang sangat diharamkan.
  5. Perbuatan mungkar lainnya dalam berta’ziyah (bela sungkawa) adalah membagi-bagi rokok dan megisapnya, lebih-lebih ketika membaca Al-Quran. Perbuatan seperti ini sangat tercela dalam pandangan Islam.
  6. Membangun dan memperindah kuburan, karena Rasulullah melarangnya. Namun banyak orang islam pada masa sekarang yang berlomba-lomba memperindah dalam membangun kuburan. Ketika putra beliau Ibrahim meninggal, beliau meratakan kuburannya, meletakkan tongkat diatasnya dan menyiramnya dengan air. Tujuan meletakan tanda diatas kuburan  agar mudah diketahui ketika menziarahinya adalah sunah.
    1. Tradisi – tradisi lain yang diharamkan oleh Islam

Tradisi jahiliyah yang ada di lingkungan kita adalah berkumpulnya orang-orang dalam pesta perkawinan atau pesta lainnya, tradisi manasabkan anak (mengaku keturunan) kepada orang yang bukan ayahnya, memakan mahar anak gadisnya dan menghalanginya untuk mendapatkan warisan.

Sebagai pendidik, kita harus lebih dahulu menjauhkan perbuatan-perbuatan yang diharamkan itu dan member teladan yang baik kepada anak didik . setelah itu baru memperingatkan orang-orang yang berhak mendapatkan pendidikan agar mereka tidak terjerumus jurang kenistaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam  pada diri setiap anak dapat menciptakan anak  yang berkarakter sesuai dengan ajaran Islam dan dapat membentuk manusia yang mengabdi kepada Allah SWT.

Nilai-nilai tersebut sebaiknya ditanamkan  pada anak sejak kecil, karena pada waktu itu adalah masa yang tepat untuk menanamkan kebiasaan yang baik padanya.

Agar pendidik tidak tersesat dalam mendidik anak-anak dan juga tidak melakukan kesalahan fatal sehingga anak bukan saja tidak pintar secara intelektual tapi juga tidak berkembang kepribadian dan wataknyapun, pendidik harus memiliki prinsip prinsip pendidikan yang menjadi tuntunan dan jiwa dari seluruh aktifitas pendidikannya Pendidikan Islam menurut ahmad D Marimba adalah bimbingan jasmani maupun rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Senada dengan pendapat diatas, menurut Chabib Thoha pendidikan Islam adalah pendidikan yang falsafah dasar dan tujuan serta  teori-teori yang dibangun untuk melaksanakan praktek pandidikan berdasarkan nilai-nilai dasar Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Orang tua memiliki tanggung jawab mengajarkan Al-Qur’an pada anak-anaknya sejak kecil. Pengajaran Al-Qur’an mempunyai pengaruh yang besar dalam menanamkan iman (aqidah) yang kuat bagi anak.

Iman (aqidah) yang kuat dan tertanam dalam jiwa seseorang merupakan hal yang penting dalam perkembangan pendidikan anak. Salah satu yang bisa menguatkan  aqidah adalah anak memiliki nilai pengorbanan dalam dirinya demi membela aqidah yang diyakini kebenarannya. Semakin kuat nilai pengorbanannnya akan semakin kokoh aqidah yang ia miliki.

Nilai pendidikan keimanan pada anak merupakan landasan pokok bagi kehidupan yang sesuai  fitrahnya, karena manusia mempunyai sifat dan kecenderungan untuk mengalami dan mempercayai adanya Tuhan. Oleh karena itu penanaman keimanan pada anak harus diperhatikan dan tidak boleh dilupakan bagi orang tua sebagai pendidik

Nilai pendidikan keimanan termasuk aspek-aspek pendidikan yang patut mendapatkan perhatian pertama dan utama dari orang tua. Memberikan pendidikan ini kepada anak merupakan sebuah keharusan yang tidak boleh ditinggalkan oleh orang tua dengan penuh kesungguhan. Pasalnya iman merupakan pilar yang mendasari keIslaman seseorang. Pembentukkan iman seharusnya diberikan kepada anak sejak dalam kandungan, sejalan dengan pertumbuhan kepribadiannya. Berbagai hasil pengamatan pakar kejiwaan menunjukkan bahwa janin di dalam kandungan telah mendapat pengaruh dari keadaan sikap dan emosi ibu yang mengandungya.

Nilai-nilai keimanan yang diberikan sejak anak masih kecil, dapat mengenalkannya pada Tuhannya, bagaimana ia bersikap pada Tuhannya dan apa yang mesti diperbuat di dunia ini.

Kaidah-kaidah terpenting yang diletakan Islam dalam mendidik anak. Prinsip tersebut tersimpu; dalam dua prinsip pokok : prinsip ikatan dan prinsip peringatan

Prinsip ikatan meliputi:

  1. Ikatan akidah, yaitu ikatan yang harus kita jaga sebaik-baiknya agar akidah anak selamat dari penyimpangan dan kekufuran.
  2. Ikatan rohani, ikatan rohaniah yang harus kita jaga aagar jiwa dan moralnya jangan sampai tergelincir.
  3. Ikatan pikiran, ikatan pikiran yang harus dibetulkan dari gambaran segala pemahaman batil dan dari prinsip-prinsip yang diimpor dari bangsa asaing non Islam.
  4. Ikatan social, ikatan social yang harus dipelihara agar masing-masing individu selamat dari sikap minder dan kehilangan kepribadian.
  5. Ikatan olah raga, ikatan olahraga yang harus dilaksanakan agar tidak lemah dan tidak digunakan untuk permainan yang tiada guna.

Prinsip peringatan meliputi :

  1. Peringatan dari kemurtadan, sebagai usaha manghindarkan dari gejala-gejala kekufuran dan kesesatan.
  2.  Peringatan dari kekufuran, sebagai usaha menjauhkan anak dari kepercayaan dari kepercayaan yang tidak mengakui adanya Dzat Tuhannya, dan tidak mengakui agama-agama samawi.
  3. Peringatan dari permainan haram, sebagai usaha menjauhkan anak dari mengikuti ajakan hawa nafsu dan melepas kehendak  hawa nafsunya.
  4. Peringatan dari mengikuti secara buta, sebagai usaha menjauhkan anak dari kelunturan kerpribadian dan perusakan kehormatan manusia.
  5. Peringatan dari teman jahat, untuk menjauhkan anak dari penyimpangan jiwa dan  kejanggalan moral.
  6. Peringatan dari dekadensi moral, sebagai usaha menjauhkan anak dari kecenderungan terjerumus dalam kenistaan dan kekejian.
  7. Peringatan dari hal-hal yang diharamkan, merupakan usaha menjauhkan anak dari siksa neraka jahanam dan menjauhkan dari gejala penyakit.

Pendidikan hendaknya berimbang dalam kaitan dan peringatan, menghimpun antara positif dan negatife, serta sennantiasa mengawasi gerak-gerik anak. Sehingga jika melihat adanya gejala penyimpangan, segara dapat peringatan. Berilah sinar kebenaran, terangi hatinya dengan sinar iman, dan senantiasa membimbingnya dengan penuh ketekunan dan kesabaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ulwan,Dr. Abdullah nashih. 2007. Pendidikan Anak Dalam Islam. Jakarta : Pustaka Amani.

Sidqi, Abdul Azis,M.Ag.,dkk. 2007. Al-Quran dan Terjemahannya Special for Women. Bandung: Sygma

http://www.google.com

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: